Pandemi bagi pendidikan siswa tunanetra.
Boyolali - Pendidikan pada masa pandemi ini bagi siwa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Boyolali tetap menjalamkan pembelajaran memakai sistem daring.
Pada siswa berkebutuhan khusus khususnya tunanetra di SD tersebut di ikuti oleh 4 siswa memang terdapat 4 siswa pada kelas tersebut. Mereka tetap bdlajar seperti biasa dengan caea dibantu oleh orang tua. Cara guru memberikan tugas dengan cara mengirim format kepada siswa yaitu format kegiatan belajar jarak jauh melalui sistem daring yang dibuat oleh siswa yang berisi tentang tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.
Saat pelaksanaanya siswa di dapingi oleh orang tuanya untuk membuat tulisan untuk anak berkebutuhan khusus tersebut yang biasa di tulis dengan menggubnakan huruf braile. Huruf tersebut diajarkan saat mereka telah masuk ke jenjang Sd saat tahun ajaran baru atau saat mereka mulai bersekolah. Jelas guru tersebut.
Sri winarti telah mengajar anak berkebutuhan khusus yang disebut tunanetra sudah mencapai 20 tahun lebih. Dan ia menjelaskan jika pendidikan tanpa tatap muka untuk siswa berkebutuhan khusus tunanetra ini sangat sulit. Dikarenakan pada siswa ini harus bisa tatap muka langsung, jika tidak ini sangat sulit untuk anak anak memahami materi yang di ajarkan.
Tetapi dengan adanya dukungan orang tua kegiatan mengajar dari atau belajar secara daring ini dapat berjalan dengan lancar. Antusias pada orang tua siswa sangat besar agar anak anaknya tetap belajar walaupun dengan cara yang berbeda dan dengan cara yang lebih sulit dari biasanya.
Sesuai tuturan yang di berikan oleh ibu winarti kegiatan ini tidak begitu berjalan dengan lancar karena tidak sesuai dengan apa yang telah di rencanakan dan telah dirapatkan saat tahun ajaran baru. “banyak yang tidak di ajarkan karena terhalang lingkungan ataupun keadaan yang sedang terjadi” tutu ibu winarti.
Kegiatan pembelajaran daring ini masih terus berlangsung saat ini hingga saat yang belum di tentukan. “Karena anjuran pemerintah harus daring ya harus di lakukan” tuturan ibu winarti. Dia berkata “kalu bisa ya secepatnya dapat bersekolah dengan biasa lagi. Kalo sepserti ini ya bikin pusing. Apalagi kan ini mengajar siswa berkebutuhan khusus. Ya harus lebih intensif lagi kalo pada keadaan yang seperti ini. Tapi ya itu tadi ga ada yang tahu apa yang akan terjadi mbak.”
Beda pembelajaran beda juga ilmu yang didapatkan oleh siswa tunanetra. Itu tuturan terakhir beliau yang disampaikan kepana reporter. SLB Negeri Boyolali ini telah ikut pendidikan yang ikut aturan dengan provinsi bukan kabupaten lagi jadi sekolah ini mengikuti aturan dari provinsi.
Pada siswa berkebutuhan khusus khususnya tunanetra di SD tersebut di ikuti oleh 4 siswa memang terdapat 4 siswa pada kelas tersebut. Mereka tetap bdlajar seperti biasa dengan caea dibantu oleh orang tua. Cara guru memberikan tugas dengan cara mengirim format kepada siswa yaitu format kegiatan belajar jarak jauh melalui sistem daring yang dibuat oleh siswa yang berisi tentang tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.
Saat pelaksanaanya siswa di dapingi oleh orang tuanya untuk membuat tulisan untuk anak berkebutuhan khusus tersebut yang biasa di tulis dengan menggubnakan huruf braile. Huruf tersebut diajarkan saat mereka telah masuk ke jenjang Sd saat tahun ajaran baru atau saat mereka mulai bersekolah. Jelas guru tersebut.
Sri winarti telah mengajar anak berkebutuhan khusus yang disebut tunanetra sudah mencapai 20 tahun lebih. Dan ia menjelaskan jika pendidikan tanpa tatap muka untuk siswa berkebutuhan khusus tunanetra ini sangat sulit. Dikarenakan pada siswa ini harus bisa tatap muka langsung, jika tidak ini sangat sulit untuk anak anak memahami materi yang di ajarkan.
Tetapi dengan adanya dukungan orang tua kegiatan mengajar dari atau belajar secara daring ini dapat berjalan dengan lancar. Antusias pada orang tua siswa sangat besar agar anak anaknya tetap belajar walaupun dengan cara yang berbeda dan dengan cara yang lebih sulit dari biasanya.
Sesuai tuturan yang di berikan oleh ibu winarti kegiatan ini tidak begitu berjalan dengan lancar karena tidak sesuai dengan apa yang telah di rencanakan dan telah dirapatkan saat tahun ajaran baru. “banyak yang tidak di ajarkan karena terhalang lingkungan ataupun keadaan yang sedang terjadi” tutu ibu winarti.
Kegiatan pembelajaran daring ini masih terus berlangsung saat ini hingga saat yang belum di tentukan. “Karena anjuran pemerintah harus daring ya harus di lakukan” tuturan ibu winarti. Dia berkata “kalu bisa ya secepatnya dapat bersekolah dengan biasa lagi. Kalo sepserti ini ya bikin pusing. Apalagi kan ini mengajar siswa berkebutuhan khusus. Ya harus lebih intensif lagi kalo pada keadaan yang seperti ini. Tapi ya itu tadi ga ada yang tahu apa yang akan terjadi mbak.”
Beda pembelajaran beda juga ilmu yang didapatkan oleh siswa tunanetra. Itu tuturan terakhir beliau yang disampaikan kepana reporter. SLB Negeri Boyolali ini telah ikut pendidikan yang ikut aturan dengan provinsi bukan kabupaten lagi jadi sekolah ini mengikuti aturan dari provinsi.


Komentar
Posting Komentar